Sunday, May 4, 2014




Kabuki
Kabuki (歌舞伎) adalah seni teater tradisional khas Jepang. Aktor kabuki terkenal dengan kostum mewah dan tata rias wajah yang mencolok, menggabungkan unsur tari, pantomim, musik, dan drama.
Pelaku sering memakai kostum dan make-up berlebihan untuk menegaskan karakter mereka. Riasan antara lain menggunakan tepung beras untuk menciptakan efek porselen pada kulit. Sekitar tahun 1603, seorang gadis kuil muda bernama Okuni mulai mementaskan tarian di luar Kyoto, ibukota kuno Jepang.
Kobuki benar-benar pertunjukan yang apat mendidik anak-anak dan juga nilai seni yang tinggi yanag terkandung di dalamnya.  Kabuki(歌舞伎) yang ditulis dengan tiga karakter kanji, yaitu uta 歌(うた) (lagu), mai 舞(まい) (tarian), dan ki 伎(き) (tehnik). Setelah melalui beberapa perkembangan akhirnya kabuki ditulis dengan tiga karakter kanji yaitu uta 歌 (lagu), mai 舞 (tarian), dan ki 妓(seniman wanita) yang kemudian karakter kanji ki 妓 diubah menjadi ki 伎, sehingga kabuki ditulis menjadi 歌舞伎(かぶき) yang sekarang ini. Penamaan kabuki dengan menggunakan tiga karakter kanji di atas, dikarenakan tiga karakter di atas dianggap sesuai dengan unsur-unsur yang ada di dalam pertunjukan teater kabuki itu tersebut. Adapun pada awalnya karakter ki, ditulis dengan 妓dikarenakan kabuki pada awalnya lahir dari seorang seniman wanita yang bernama okuni 阿国(おくに) dari kuil Izumo.

Pertunjukan ini menjadi begitu terkenal sehingga sejumlah penari dan musisi lain membentuk grup kabuki mereka sendiri.
Namun, karena para pementasan terutama diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, teater kabuki tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat kelas atas.
Lebih parah, beberapa pemain kabuki perempuan menjadi populer untuk lagu mesum dan tarian provokatif mereka.
Pemerintah akhirnya melarang perempuan terlibat dalam pementasan kabuki.
Sama seperti pementasan teater Shakespeare, tokoh perempuan dalam kabuki diperankan oleh aktor laki-laki yang disebut onnagata.
Seiring dengan waktu, pertunjukan teater kabuki semakin berkualitas. Penekanan bergeser dari tema tarian asli menjadi drama dan komedi berdasarkan tema kontemporer seperti pengkhianatan atau intrik politik.
Aktor kabuki umumnya juga mempelajari gerakan dan dialog dari teater boneka populer yang disebut bunraku.


Seiring apresiasi dari pemerintah dan kalangan kelas atas yang semakin meningkat, tetater kabuki menjadi semakin populer di Jepang.

Selama Perang Dunia II, komunitas teater kabuki menderita kerugian yang luar biasa.
Butuh waktu beberapa dekade untuk memulihkan dan melatih jumlah aktor yang memadai untuk menggantikan mereka yang menjadi korban perang.
Saat ini, teater kabuki masih cukup populer di kalangan masyarakat Jepang. Kabuki antara lain dimainkan untuk kepentingan pariwisata sebagai bukti pencapaian budaya tradisional Jepang.

No comments:

Post a Comment